- Mood:
Wow! - Listening to: Air Conditioning noise
- Reading: Cyber Law and HAKI di Indonesia, capek!
- Watching: VCD Didong Kampanye Bupati Aceh Tengah
- Playing: Fable
- Eating: Rendang Lebaran
- Drinking: Mineral Water
Aku pengen menulis beberapa catatan yang mungkin juga bermakna kegagalan. Tentang bulan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan aktivitas filantropis, tapi ternyata tidak termanfaatkan dengan baik. Saat orang-orang berpeluh dan berhimpitan lalu meregang nyawa untuk 30 ribu perak, sekelompok orang di TV tertawa-tawa gak penting, membuang-buang motor dan jutaan rupiah dengan senda gurau dalam semangat mendakwahkan produk. Lewat tanya jawab bodoh. Channel-channel yang menawarkan kesejukan jadi terasa sunyi di situ. Seperti surau berpunggungan dengan hipermarket. Dan surau kecil itu pagi ini menyengat lagi: beberapa hal diharamkan untuk kita secara syariah, beberapa yang lain karena noda-noda kita sendiri. Iklim yang baik diharamkan pada kita karena noda-noda kita dalam memperlakukan alam. Mungkin aku gagal memahami agama TV.
Nikmat apalagi yang akan dicabut dari kita saat punggung kaos anak muda dengan semangat meneriakkan dukungan pada tim bola kesayangannya Dunia Akhirat yang menjadikannya candu yang lebih gegap gempita. Dan tentu membuat penganutnya terjaga untuk 90 menit yang mengguncang emosi dibanding beberapa menit yang membosankan di sudut masjid. Mereka bisa saja menumpahkan darah wasit yang dianggapnya merugikan agamanya. Aku gagal memahami agama bola.
Atau kaos lain yang memunggungi kami di perjalanan ke Pasar Baru (untuk mencari baju-baju baru tentunya) kemarin: Tuhan adalah teori dan imajinasi bagi manusia. Kerenlah dia dengan kaos itu bila cukup membedah teori-teori tentang Tuhan, menghirup dan membaginya pada kita atau itu teriakannya karena gagal mengimajinasikan supreme being? Atau mereka-mereka yang tertangkap kamera mengayun-ayun sabuk berkepala besi atas nama pembelaan pada agama tapi ingin ada darah saudaranya yang tumpah untuk itu? Sabuk yang terselip di balik jubah dan surban putih mereka, nama-nama korps mereka. Mereka melakukannya di bulan baik ini. Aku kembali gagal memahami agama fashion.
Nikmat apalagi yang akan dicabut saat bulan baik untuk berempati pada rasa lapar ini ternyata justru mengubah cara kita makan menjadi lebih lapar dari sebelumnya, dari mereka-mereka yang lapar. Teoriku sederhana saja, bisnis makan yang tidak berhasil menangguk untung di bulan ini berarti tidak punya prospek lebih baik di bulan lain. Saat kita membelah sudut kota ke sudut yang lain untuk memuaskan hasrat makan kita. Mungkin aku gagal memahami agama makan.
Nikmat apalagi yang akan dicabut saat bulan baik ini waktu seseorang merasa berhak mengusir orang lain dari rumah dimana bukan dia tuan rumahnya. Aku sedang mencarikan alasan yang lebih baik daripada sekedar alasan kekhusyukan, bahwa seorang anak akan membawa kegaduhan di masjid. Aku mencoba mengingat kelembutan seorang mulia, bahwa kekasaran macam ini membekas pada seorang anak lebih lama dari bekas ompol di baju mereka. Aku tidak mampu memahami agama sebagai teritorial fisik semacam ini.
Dengan semua kegagalan, keengganan dan inkonsistensi selama ini, nikmat apa yang akan dicabut dari aku? Seribu bulan, satu bulanpun belum bisa menjadikannya lebih baik. Tapi aku tetap ingin berbaik sangka, bahwa Dia berkenan menghamparkan samudera maafNya yang luas, yang tak habis-habis, yang atas itu kita tulis ilmu-ilmu yang tak pernah cukup, semoga diterima kebaikan yang sudah kita perbuat dan termaafkan segala keterbatasan kita. Menggantinya dengan berkah, gelora cinta yang menyala-nyala dan konsistensi akan segala hal yang manfaat. Kini urusan horisontal, aku ingin mengucapkan MAAF pada semua teman, rekan, sahabat, saudara kami yang telah tercederai jiwa raganya baik secara sengaja atau tidak oleh saya dan keluarga. Maaf kalian adalah kemenangan kecil kami.