Baiklah, biarkan konsep semacam itu selalu terasa imajiner, paling tidak kita bisa selalu menaruh harapan bahwa selalu ada besok yang lebih baik. Anggaplah selalu sebagai sebuah doa. Karena toh tak terelakkan, software kita telah tertanam di tanah berlumpur itu. Dan dari situ kita mengenal tempat pulang. Bisa jadi, tempat pulang yang kita lupakan. Tapi tentang harapan, aku ingin mengenang sebuah lagu yang lain. Yang dulu, kami nyanyikan dengan tawa cekikikan dan saling menggugat kekhidmatan teman yang menyanyi di sebelah kita: "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya..." Membangun jiwa lebih dahulu sebelum diri kita hanya dilihat sebagai badan. Dan ini waktu yang sangat menyudutkan untuk itu.
Sebuah peran baru yang mungkin juga tak terduga. Kata "peran" mungkin akan terdengar berlebihan bila disandingkan oleh apa yang sudah dilakukan Bung-Bung kita dulu. Tapi gak tau kenapa, aku bangga dengan peran sekecil itu. Karena itu, ini kebanggaan yang harus aku ceritakan ketempat semacam ini. Aku diminta warga menjadi juri lomba tumpeng sebuah tirakatan perayaan 17 Agustus di perumahan kami yang masih seumur jagung. Sebuah kehormatan yang luar biasa, meskipun kita lakukan tentu dengan canda. Seperti layaknya hidup, canda tawa belaka. Maaf, aku tak punya apa-apa untuk negara tahun ini. Bisa jadi, karena masih imajiner, atau hal lain. Tapi semoga di usiamu yang 63 ini, aku bisa selalu menyanyi buatmu. MERDEKA!!!
Oh ya, tumpeng istriku juara ke-2 tanpa kolusi dengan juri. SEKALI LAGI, MERDEKA!!!
Devious Comments
--
More Playful with Me
[IMG][link]
--
Indonesia...!!!
maaf, saya baru belajar...
mohon hinaan dan binaan...
--
the reality shown in many faces, let's catch as much as you can
--
the reality shown in many faces, let's catch as much as you can
--
More Playful with Me
[IMG][link]
Katanya cinta rupiah, tapi mengais dolar, cari proyek luar, dan berharap dolar naik rupiah turun, biar pendapatan nambah. Entah gimana sebaiknya ya...
Trus:
Aku liat di TV jadi kasian lihat salah satu pejuang kita yang pernah ikut perang lawan penjajah dan hadir di saat pembacaan proklamasi, berdiri paling depan, masih hidup sampai saat ini, tapi sekarang cuma hidup di gubuk dan tidak mendapatkan hak uang pensiun. Kira2 apa ya yang akan dilakukan para pensiunan yang lebih muda (jaman sekarang) lainnya yang mendengar ini? yang tidak ikut perang tapi berbangga diri karena 'hanya' pernah memakai seragam jendral ataupun marinir. Apakah diam dan membatin "Ooh, kasiannya bapak itu...", ataukah hal lain yang lebih 'bertindak'?
Tahun ini aku juga gak bisa nyumbang apa2 pak untuk negeri... Mudah2an hanya dengan hasil karya yg maksimal saja, aku bisa angkat nama negeri ini... MERDEKAAAA!!!!
YNWA
--
----------------------
Tegar Ariprabowo
----------------------
waahh... ada tumpeng kok gak ngomong2 sih..
curang...
--
_.: THE MORE YOU DO THE MORE YOU CAN DO :._
Indonesia , tanah airku , tanah tumpah darahku
disanalah aku berdiri , jadi pandu ibuku
Indonesia , kebangsaanku , bangsa dan tanah airku
marilah kita berseru : Indonesia bersatu
hiduplah tanahku, hiduplah negriku
bangsaku, rakyatku, semuanya
bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya, merdeka merdeka
tanahku, negriku, yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka merdeka
hiduplah Indonesia Raya
...................TEGAP GRAK!!!!!..................
--
I'm an indonesia who is looking for INDONESIA. You tell me.
Previous Page123Next Page